… She Said
Pemuda itu sedang duduk, di atas kursinya, dengan segelas (yang Aria yakini) cappucinno di hadapan. Memangku dagu dengan tangan kanan, yang kiri sibuk mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Bibirnya asik menjepit sedotan, entah isi di dalam gelas itu benar-benar ia tarik sampai ke dalam mulut atau benda itu cuma bertengger iseng di celah bibir.
Sudah. Sampai situ.
Cukup sampai sebatas itu saja yang Aria ketahui dari tempatnya berdiri sekarang. Memakai jaket berwarna biru langit dengan hoodie yang menutupi rambut pirangnya. Tidak seperti biasanya, kali ini surai-surai kekuningan itu tak tergerai bebas. Si tunggal Fullilove ini sengaja mengikat rambutnya dengan model kuncir kuda, pita yang menempel di kepala juga tak sebesar biasanya. Dia tak ingin terlihat sama hari ini, tak mau mudah dikenali. Beda. Karena Aria Fullilove yang sekarang sedang berdiri di depan kuali bocor itu, bukan Aria Fullilove yang sama dengan yang kemarin. Yah, paling tidak untuk hari ini saja.
Untuk hari ini.
Tarik nafas dalam, tahan satu detik sebelum kembali ia hembuskan. Tungkainya melangkah ke arah pintu, tangannya mendorong kayu usang itu agar tak menghalau jalannya. Hari ini Leaky Cauldron tak sepenuh tahun-tahun biasanya, jadi ia tak perlu bersusah payah untuk mencari meja dan bangku kosong.
Death Eater.
Mungkin karena penjahat-penjahat kelas kakap itu Hogwarts jadi sepi peminat. Ingat peristiwa tahun kemarin, saat orang-orang sinting itu menyerang Diagon Alley? Yah, Aria sendiri bersyukur sampai saat ini ia masih hidup, walaupun tetap dilanda rasa was-was dan khawatir. Muggle, kau tahu? Ayahnya jelas bukan penyihir, tapi ia mewarisi darah ibunya. Cuma ibunya yang penyihir, ibunya yang meninggalkan dunia ini sejak lama.
Aria menuju satu meja agak tergesa, namun tetap hati-hati agar tak menabrak apapun atau menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Terutama dia. Yeah, masih soal si pemuda tadi, yang kini jaraknya menjadi sedikit lebih dekat dengan dirinya. Sedikit. Dia tidak mau tertangkap sekarang. No, really, Aria masih ingin berlama-lama memandangnya dari jauh, atau lebih tepatnya, ingin tahu apa yang membuatnya berubah akhir-akhir ini. Tingginya sudah tentu. Walau cuma sedikit, Aria bisa melihat perbedaan tingginya yang sekarang dengan tahun lalu,—oh, okay, she watched him everyday at school, bohong kalau dia bilang tak perduli—tapi bukan itu yang ingin ia tahu sekarang.
Akhir-akhir ini ia jarang memutar matanya dengan kesal, menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi, menatap sinis, bicara kasar dengan setengah berteriak, atau bahkan mengucap mantra kutukan ringan. Yeah, melakukan semua hal buruk pada si jabrik itu. Sudah beberapa bulan mereka tak pernah melakukan pertengkaran yang tak penting, bahkan beradu pandang pun tidak. Saat mereka berpas-pasan, lelaki itu akan langsung menunduk, atau menoleh ke arah lain, melewatinya begitu saja. Dan semua itu berawal saat seorang Slytherin masuk dalam kehidupannya, mendapatkan hatinya, untuk kemudian menghancurkannya.
Aria sakit, sudah tentu, dan menjadi lebih sakit saat seseorang yang entah kenapa sangat ingin ia temui untuk mengobati luka hatinya malah ikut mengacuhkan. Kenapa? Karena dulu Aria menganggapnya menyebalkan? Karena dulu ia juga mengacuhkannya? Karena Aria berpacaran dengan si Slytherin? Karena Aria cuma butuh pelarian? Itu yang ingin ia cari jawabannya. Dan kemarin pagi, saat terbangun dari tidurnya ia seperti ditampar malaikat. Akhirnya, Aria sadar dirinya tamak. Aria sadar dirinya jahat. Aria sadar dirinya… rindu. Ia rindu dipecundangi oleh perbuatan si jabrik. Ia rindu diintimidasi oleh tatapan matanya. Ia rindu dipatahkan oleh kata-katanya. Ia…
Suka. Mungkin.
Manik birunya masih sempat melirik gelas berisi minuman yang tinggal seperempat dari meja sebelah sana. Seperempat gelas cappucinno yang saat ini ia anggap seperti bom waktu. Dua kali tarikan dari pipa mini, maka waktunya habis. Ditariknya napas dalam-dalam, menjejalkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru. Membersihkan pikiran, membersihkan hati. Yah, waktunya tak banyak. Ia sudah bertekad akan membuang urat malunya hari ini. Berdiri dari kursi, sebisa mungkin tak membuat suara ‘greet’ panjang, kemudian Aria melangkah mantap menjauhi tempat persembunyiannya. Mendekati tempat (yang baru-baru ini ia deklarasikan dalam hati) si pujaan.
Sampai. Di belakang. Si pemuda.
Tarik napas, lagi. Entahlah ini sudah yang keberapa kali ia menarik napas dengan sadar bukan dengan refleksnya. Seolah-olah, dia ini ikan yang diangkat dari air, berusaha setengah mati agar bisa tetap bernapas. Justru yang tak ia sadari adalah, safirnya kini telah memandang punggung pemuda di depannya dengan takjub, pun ketika punggung itu berbalik dan berubah menjadi sepasang mata beriris gelap. Aria baru tersadar saat kalimat “ada apa?” terdengar.
Semburat merah jambu kini terlihat di pipinya, tatapan takjub yang sebelumnya, digantikan dengan tatapan gugup. “Aku—“ suaranya tercekat. Wahai Godric Gryffindor, ampunilah kebodohan salah satu penerusmu ini. Semua kata-kata yang telah ia persiapkan matang-matang untuk ditujukan pada pemuda itu, hilang. Berapa kali pun ia berlatih di depan cermin, berapa kali pun ia menyusupkan banyak oksigen dalam darahnya agar bisa berpikir jenih, kini menjadi sia-sia.
Aria kalut. Tapi ia masih memiliki darah seorang Gryffindor. Dan perpaduan keduanya menciptakan sebuah perbuatan yang berani, namun bodoh. Ia meletakkan tangannya di bahu si anak lelaki, membungkukkan badan, mempersempit jarak kedua wajah mereka—sampai tak tersisa. Detik kemudian, gadis itu merasakan kelembutan menyentuh bibir mungilnya, merasakan hawa panas merayap di pipinya, sampai membuat kulit putihnya berubah warna…
.
.
Merahlah sudah wajahnya. Terlebih lagi dengan siul-siulan yang terdengar dari segala penjuru Kuali Bocor itu. Diliriknya takut-takut anak lelaki di depan mata. “I—“ oh, ayolah Aria, kau melakukan hal sejauh ini untuk mengutarakan sesuatu, no?
“I love you.” Selesai sudah.
Misinya hari ini cuma sampai situ. Kini ia dapat berlari keluar, membiarkan sang Prefek dengan wajah bingungnya. Sungguh, Aria tak berharap banyak dengan semua yang ia lakukan tadi. Tak mau muluk-muluk membayangkan sang pria mengejarnya, memanggil namanya, mengatakan kalau dia juga—
“Fullilove,”
menyukainya? Tak berharap memang, tapi bukan berarti dia tak ingin. Maka, kali ini, dia berbalik. Dengan sedikit harapan kalau yang memanggil namanya tadi membalas pernyataan—
“Avada Kedavra!”
Ah, sakit. Hal terakhir yang harus ia dengar diujung hidupnya bukanlah pernyataan cinta. Hal terakhir yang harus ia lihat bukanlah pemuda dengan rambut jabrik berwarna gelap.
.
.
Gelap.
——————-
[[Well yah, ceritanya kangen. Dan sebagai permintaan maaf—mungkin?
Eniwei, ini udah didraft dari gw pertama bilang mau unreg, tapi ya dasar ga bakat emang bikin penpik (dan kebanyakan magernya) jadi baru kelarnya sekarang orz.
Btw, jangan direblog yah, kalo mau komen (najis-najisin juga gpp, abal dan maksa banget ini soalnya HAHA) di tuiter aja yang lebih pripat :”> #tahee
And srsly, i do miss them!]]



